Ir. H. Heppy Trenggono M.Kom

Profile Ir. H. Heppy Trenggono M.Kom
Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF)

Beliau lahir di desa Bawang, Batang, Jawa Tengah adalah seorang pengusaha, pendiri United Balimuda Group. Sebuah perusahaan multinasional yang dibangun dari nol. Dalam membangun bisnisnya Heppy sempat jatuh dengan hutang 62 miliar rupiah, kemudian bangkit dalam kurun waktu tiga tahun tanpa bersentuhan dengan BUNGA bank!
United Balimuda Group bergerak dalam industri perkebunan kelapa sawit dan consumer goods. Target bekebunan kelapa sawit yang akan dibangun adalah seluas 300 ribu hektar.Melalu brand umbrella heppyFood, anak perusahaan United Balimuda memproduksi berbagai makanan dan minuman yang dipasarkan di indonesia dan ekspor
Bagi Heppy, bisnis tidak sekedar cara untuk membangun kekayaan, tetapi bisnis juga merupakan sebuah cara bagaimana seseorang memaknai hidupnya.
Dalam berbagai kesempatan, banyak pembicaraan dan pertanyaan tentang strategi membangun kekayaan yang sesungguhnya. Sebenarnya, pertanyaan itu merupakan reaksi
dari pertanyaan yang selalu di ulang di mana-mana : kaya itu tidak sama dengan kelihatannya kaya. Sukses itu jauh berbeda dengan kelihatannya sukses.

IIBF CABANG SOLO

Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Soloraya menargetkan bisa mencetak 7.000 pengusaha baru sampai dengan akhir tahun 2020.
Ketua IIBF Soloraya periode 2012-2014, Suripto,S.Sos, yang siap dilantik Sabtu (20/10/2012) di Grha Soloraya, menyampaikan IIBF Soloraya ingin memberikan kontribusi terhadap IIBF secara nasional yang menargetkan 1 juta pengusaha baru sampai dengan tahun 2020.
“Paling tidak, di satu kota atau kabupaten kami bisa mencetak 1.000 pengusaha baru,” kata Suripto,S.Sos, kepada wartawan, Jumat (19/10/2012).
Pemilik Rumah Makan Dapur Solo ini mengakui, usaha untuk mencapai target 1 juta pengusaha baru ini tidaklah mudah. Kesadaran untuk menjadi entrepreneur masih sangat minim. Dan Indonesia, kata dia, belum mampu memenuhi kuota minimal jumlah wirausaha yaitu 2% dari jumlah penduduk.
Apalagi, saat ini Indonesia juga tengah dihadapkan pada gempuran produk-produk asing. Selain berupaya mencetak wirausaha, IIBF juga terus menyerukan Gerakan Beli Indonesia.
Suripto,S.Sos  mengatakan, tidak disadari saat ini ekonomi Indonesia masih dikuasai asing. Dia menyebutkan, 80% pasar tekstil dikuasai asing. 80% pasar farmasi, 92% industri teknologi, hingga air putih kemasan juga sudah dikuasai asing.
Dari kondisi itu, artinya banyak sekali uang rakyat Indonesia yang dibawa ke luar negeri. Misalnya, sebuah perusahaan asing yang menguasai pasar air minum dalam kemasan meraup penjualan Rp10 triliun/tahun. Perusahaan pasta gigi, sampo, sabun mandi dan lain-lain mampu mencatat penjualan Rp20 triliun/tahun. Kemudian, perusahaan susu formula yang mengendalikan 80% petani susu di Indonesia mampu meraup penjualan Rp200 triliun/tahun.
“Sementara, produk pengusaha Indonesia sangat sulit untuk masuk ke supermarket, karena supermarket membuat listing fee dan potongan harga sampai 23%, sedang produk luar justru hanya dikenai 3%,” tandas dia.
IIBF, lanjut Suripto, terus gencar mengkampanyekan Gerakan Beli Indonesia melalui komunitas-komunitas. Salah satunya, pesantren. “IIBF ingin membuat minimarket yang khusus menjual produk dalam negeri, dan minimarket itu akan kami buka di pesantren-pesantren. Gerakan Beli Indonesia akan kami mulai dari situ.